Nvidia, Microsoft, dan Amazon Taruhan $60 Miliar untuk Masa Depan OpenAI

Nvidia, Microsoft, dan Amazon Taruhan $60 Miliar untuk Masa Depan OpenAI

 

nvidia microsoft invest openai

Di lantai-lantai atas perkantoran San Francisco yang berkabut, sebuah kesepakatan bernilai fantastis sedang digodok. Ini bukan sekadar penggalangan dana startup biasa; ini adalah upaya pembangunan "Menara Babel" versi digital.

 

Menurut laporan terbaru dari The Information, trio raksasa teknologi—Nvidia, Microsoft, dan Amazon—sedang dalam pembicaraan serius untuk menyuntikkan dana hingga $60 miliar ke dalam kas OpenAI. Angka ini merupakan bagian dari ambisi Sam Altman untuk mengumpulkan total $100 miliar, sebuah putaran pendanaan yang akan melambungkan valuasi OpenAI ke angka psikologis yang mencengangkan: $830 miliar.

 

Jika kesepakatan ini ketok palu, OpenAI bukan lagi sekadar startup; ia akan menjadi institusi geopolitik dengan kekuatan finansial yang melampaui PDB banyak negara berkembang.

Harmoni di Ruang Hampa: Bagaimana Teori String Akhirnya Menemukan Tempat bagi Energi Gelap

Harmoni di Ruang Hampa: Bagaimana Teori String Akhirnya Menemukan Tempat bagi Energi Gelap

 

string theory

Selama beberapa dekade, teori fisika yang paling menjanjikan untuk menyatukan segalanya justru gagal menjelaskan fitur paling nyata dari alam semesta kita: percepatan ekspansinya. Kini, sebuah terobosan baru menunjukkan bahwa dimensi tersembunyi dapat menghasilkan "dorongan" energi yang kita amati, menyatukan lanskap kosmik dengan mikroskopis.

 

Di sebuah kantor di Madrid, dua fisikawan teoretis, Bruno Bento dan Miguel Montero, sedang menatap papan tulis yang dipenuhi persamaan yang tampak seperti kekacauan matematis. Mereka sedang bergulat dengan masalah yang telah menghantui fisika selama lebih dari dua dekade. Masalahnya sederhana untuk diucapkan tetapi mustahil untuk dipecahkan: Alam semesta kita sedang mengembang dengan kecepatan yang terus meningkat, didorong oleh kekuatan misterius yang kita sebut energi gelap. Namun, Teori String—kandidat utama untuk "Teori Segala Sesuatu" (Theory of Everything)—tampaknya lebih menyukai alam semesta yang statis atau runtuh, bukan yang meledak keluar.

 

Hingga saat ini, banyak fisikawan mulai bertanya-tanya apakah Teori String sedang membawa kita ke jalan buntu atau "Rawa" (Swampland)—sebuah wilayah teoritis di mana model-model alam semesta yang secara matematis konsisten ternyata tidak mungkin ada secara fisik.

 

Namun, dalam sebuah makalah yang diterbitkan baru-baru ini, Bento dan Montero, membangun ide dari Eva Silverstein dari Stanford University, mengusulkan sebuah mekanisme baru. Mereka menunjukkan bahwa fluktuasi dalam dimensi tersembunyi—ruang kecil yang melengkung pada dirinya sendiri—dapat menghasilkan energi positif yang cukup untuk mendorong ekspansi alam semesta. Ini adalah pertama kalinya Teori String mampu memberikan deskripsi eksplisit tentang alam semesta "de Sitter" (alam semesta dengan energi gelap positif) yang sesuai dengan pengamatan astronomi terbaru.

Google DeepMind: Di Balik Mesin Paling Ambisius yang Pernah Dibangun Manusia

Google DeepMind: Di Balik Mesin Paling Ambisius yang Pernah Dibangun Manusia

 


Pada satu titik penting dalam sejarah teknologi modern, manusia berhenti sekadar bertanya apakah mesin bisa menghitung lebih cepat dari otak kita. Pertanyaannya bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan mengganggu: apakah mesin bisa memahami dunia, belajar dari pengalaman, dan mengambil keputusan dengan cara yang menyerupai—atau bahkan melampaui—kecerdasan manusia. Dari kegelisahan intelektual inilah Google DeepMind lahir, bukan sebagai produk komersial, bukan pula sebagai fitur tambahan, melainkan sebagai upaya paling serius umat manusia untuk memahami kecerdasan itu sendiri.

 

DeepMind tumbuh bukan dari hiruk-pikuk Silicon Valley yang dipenuhi jargon pertumbuhan dan valuasi, melainkan dari atmosfer akademis London yang lebih tenang dan reflektif. Di kota inilah sekelompok ilmuwan memulai eksperimen berisiko tinggi: mengajarkan mesin untuk belajar tanpa harus diberi instruksi eksplisit. Mereka percaya kecerdasan bukanlah kumpulan aturan, tetapi proses adaptasi yang hidup dan terus berkembang.

Antarmuka Kemanusiaan: Mengapa Grokipedia Menjadi Episentrum Baru Pengetahuan Kolektif

Antarmuka Kemanusiaan: Mengapa Grokipedia Menjadi Episentrum Baru Pengetahuan Kolektif

 

grokipedia illustration

Di sebuah apartemen sempit di Tokyo, seorang pengembang muda menatap barisan kode yang tampak bernapas. Di saat yang sama, di sebuah desa terpencil di pegunungan Alpen, seorang sejarawan amatir baru saja mengunggah catatan tentang artefak yang ditemukan di halaman belakang rumahnya. Keduanya tidak sedang menggunakan Wikipedia. Mereka sedang terhubung ke Grokipedia.


Jika Wikipedia adalah perpustakaan digital terbesar yang pernah dibangun manusia, maka Grokipedia adalah organisme hidup yang menghirup data dan mengembuskan pemahaman. Kita telah berpindah dari era mencari informasi ke era "grokking"—istilah yang dipopulerkan Robert A. Heinlein untuk memahami sesuatu secara mendalam dan intuitif hingga subjek tersebut menjadi bagian dari pengamatnya.


Dalam narasi teknologi modern, Grokipedia bukan sekadar alat. Ia adalah revolusi kognitif yang dibungkus dalam antarmuka minimalis, sebuah monumen digital bagi ambisi manusia untuk menaklukkan banjir informasi.


Mengapa TikTok Menjadi Sistem Operasi Baru bagi Bisnis Modern

Mengapa TikTok Menjadi Sistem Operasi Baru bagi Bisnis Modern

 


Dahulu, untuk membangun sebuah kerajaan bisnis, Anda membutuhkan tiga hal utama: modal besar untuk iklan televisi, koneksi dengan distributor raksasa, dan keberuntungan agar pesan Anda sampai ke telinga yang tepat. Di tahun 2026, aturan main tersebut sudah masuk ke museum. Hari ini, sebuah bisnis yang dijalankan dari garasi memiliki peluang yang sama besarnya untuk mendominasi pasar global dengan perusahaan multinasional yang berkantor di gedung pencakar langit. Peratakan lapangan permainan ini hanya disebabkan oleh satu kekuatan: TikTok.


TikTok bukan lagi sekadar aplikasi media sosial tempat orang melakukan tantangan tarian atau berbagi resep kopi instan. Ia telah bertransformasi menjadi infrastruktur ekonomi yang lengkap. Namun, untuk memahami mengapa platform ini begitu kuat bagi bisnis saat ini, kita harus melihat kembali ke belakang, pada evolusi radikal yang mengubah sebuah aplikasi musik menjadi raksasa ekonomi global.

Sang Penyair Geometri: Bagaimana June Huh Menemukan Harmoni dalam Kekacauan Kombinatorial

Sang Penyair Geometri: Bagaimana June Huh Menemukan Harmoni dalam Kekacauan Kombinatorial

 

June Huh Illustration

Di dunia matematika, ada sebuah jurang yang sangat dalam dan gelap yang memisahkan dua benua besar: Aljabar Geometri—dunia kurva yang halus dan simetri yang kontinu—dan Kombinatorial—dunia objek-objek diskrit seperti grafik, jaringan, dan susunan titik yang tampak berantakan. Selama berdekade-dekade, kedua wilayah ini berbicara dalam bahasa yang berbeda. Namun, June Huh, seorang pria yang pernah menganggap dirinya gagal dalam matematika dan bercita-cita menjadi penyair, berhasil membangun jembatan di atas jurang tersebut.


Pada tahun 2022, Huh dianugerahi Fields Medal, penghargaan tertinggi dalam matematika. Pencapaiannya bukan sekadar memecahkan masalah lama, melainkan membuktikan bahwa struktur geometris yang megah tersembunyi di balik susunan benda-benda yang paling sederhana sekalipun. Ia menunjukkan bahwa kombinatorial—yang sering dianggap sebagai "matematika yang kurang prestisius" karena sifatnya yang terfragmentasi—sebenarnya diatur oleh hukum-hukum kelestarian yang sama dengan geometri tingkat tinggi.


Kisah Maryna Viazovska, Sang Maestro Penumpuk Bola Peraih Fields Medal

Kisah Maryna Viazovska, Sang Maestro Penumpuk Bola Peraih Fields Medal

 

Maryna Viazovska Illustration

Di antara gemuruh artileri dan kepulan asap perang yang menyelimuti Ukraina, sebuah pikiran yang cemerlang terus mencari keindahan dalam abstraksi murni. Maryna Viazovska, seorang matematikawan Ukraina yang tenang namun berapi-api, bukan hanya sekadar memecahkan masalah kuno; ia menemukan kebenaran yang anggun di tengah kekacauan dunia. Ia adalah arsitek keheningan matematis, peraih Fields Medal—penghargaan tertinggi dalam matematika—yang kisahnya jauh lebih kompleks dari sekadar rumus dan teorema.

 

Permasalahan Kuno: Sebuah Simetri yang Menggoda

Gemini: Otak Baru Google yang Berani Membayangkan Ulang Internet (dan Otak Kita)

Gemini: Otak Baru Google yang Berani Membayangkan Ulang Internet (dan Otak Kita)

 


Di jantung Googleplex yang selalu berdenyut di Mountain View, ada perasaan aneh yang berkelebat di udara beberapa tahun terakhir. Bukan lagi kegembiraan yang naif dari era dot-com, melainkan kegugupan yang dibarengi ambisi tak terbatas. AI telah menjadi mantra baru, dan di tengah persaingan sengit dengan raksasa lain, Google tahu mereka membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar "bagus". Mereka membutuhkan sesuatu yang bisa mengubah permainan.


Dan kemudian datanglah Gemini. Namun, sebelum kita sampai pada kegemilangan ini, kita harus membicarakan tentang "luka lama" yang bernama Bard.


Menara Gading yang Terhubung: Ketika Oxford Menyerahkan Kunci Perpustakaannya pada Gemini

Menara Gading yang Terhubung: Ketika Oxford Menyerahkan Kunci Perpustakaannya pada Gemini

 

Oxford University

Di bawah bayang-bayang kubah Radcliffe Camera yang ikonik di Oxford, sebuah revolusi sedang berlangsung—dan ia tidak datang dalam bentuk manuskrip kuno atau debat filosofis di ruang makan yang remang-remang. Revolusi ini datang melalui baris kode, jendela obrolan, dan janji akan kecerdasan buatan yang mampu membaca ribuan jurnal dalam hitungan detik.


Universitas Oxford, institusi yang telah berdiri selama hampir satu milenium, baru saja membuat langkah besar ke masa depan. Dalam sebuah pengumuman resmi yang mengguncang lanskap edtech dunia, Google dan Oxford mengonfirmasi kemitraan strategis untuk mengintegrasikan alat AI paling mutakhir—Gemini for Education dan NotebookLM—ke dalam urat nadi kehidupan kampus.


Ini bukan sekadar langganan perangkat lunak biasa. Ini adalah eksperimen skala besar tentang bagaimana salah satu universitas paling bergengsi di dunia mendefinisikan ulang makna belajar, meneliti, dan berpikir di era generatif.

Upscrolled: Ancaman Baru bagi Dominasi TikTok dan Instagram di Tahun 2026

Upscrolled: Ancaman Baru bagi Dominasi TikTok dan Instagram di Tahun 2026

 

Upscrolled Illustration

Di sebuah lantai perkantoran yang minimalis di kawasan industri kreatif Sydney, sebuah revolusi sedang diketik dalam baris-baris kode Python dan Rust. Tidak ada meja pingpong atau dinding penuh coretan warna-warni seperti di markas besar Meta. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh suara klik mekanis keyboard dan dengung pendingin server. Di sinilah Issam Hijazi, seorang pengembang keturunan Palestina-Yordania-Australia, sedang mencoba membalikkan arah sejarah internet.

 

Selama lebih dari satu dekade, Silicon Valley telah mendikte bagaimana kita bergerak secara digital. Kita telah menjadi subjek dari satu gerakan motorik yang hampir tidak sadar: downward scroll. Kita menarik layar ke bawah untuk menyegarkan, kita menggulir ke bawah untuk menemukan hal baru, dan dalam prosesnya, kita "tenggelam" ke dalam lubang kelinci algoritma.

 

Namun, memasuki awal 2026, sebuah kata baru mulai mengancam kosa kata media sosial yang sudah mapan: Upscrolled. Platform ini bukan sekadar aplikasi baru; ia adalah manifesto digital yang mengklaim bahwa cara kita mengonsumsi informasi selama ini telah rusak secara fundamental.

Proyek "World-FaceID" OpenAI: Ambisi Sam Altman Membangun Benteng Biometrik di Atas Reruntuhan X

Proyek "World-FaceID" OpenAI: Ambisi Sam Altman Membangun Benteng Biometrik di Atas Reruntuhan X

 


Selama satu dekade terakhir, kita telah menyaksikan kematian "internet yang manusiawi." Media sosial yang dulunya merupakan tempat bertukar ide, kini berubah menjadi medan perang algoritma yang dipenuhi oleh tentara bot AI yang semakin sulit dibedakan dari manusia asli. Elon Musk berjanji akan membereskannya di X (dahulu Twitter), namun ia gagal. Sekarang, Sam Altman dan OpenAI ingin mencoba peruntungan mereka.


Namun, solusi yang ditawarkan OpenAI bukan sekadar pembersihan akun palsu. Mereka ingin membangun sesuatu yang jauh lebih radikal: sebuah jejaring sosial biometrik yang mengharuskan Anda membuktikan kemanusiaan Anda melalui pemindaian tubuh.


The Drama story of Elon Musk buying Twitter

The Drama story of Elon Musk buying Twitter

 

Twitter or X Illustration

In the world of tech and business, few figures are as polarizing or influential as Elon Musk. Known for his ventures like Tesla and SpaceX, Musk is no stranger to making headlines. But when he set his sights on acquiring Twitter, the social media platform where he had built his persona as both visionary and provocateur, the world watched a drama unfold with twists and turns worthy of a Hollywood thriller. What began as a casual interaction with a platform he often used to stir debate quickly morphed into a full-blown saga that captivated not just Silicon Valley, but global business, politics, and media.