Siapa Andrew G. Barto? Kontribusi Besar di Balik Penghargaan Turing Award AI
Turing Award
Pada suatu sore di
awal musim semi, di sebuah kampus yang tenang di Amherst, Massachusetts,
seorang profesor senior berjalan perlahan melewati lorong-lorong gedung lama
Fakultas Ilmu Komputer. Rambutnya memutih, langkahnya santai, dan wajahnya
membawa ketenangan khas seorang ilmuwan yang telah berdamai dengan pencapaian
panjang hidupnya. Sosok itu adalah Andrew Gehret Barto, seorang
akademisi yang namanya mungkin tidak sepopuler Elon Musk atau Demis Hassabis,
tetapi bagi dunia kecerdasan buatan, ia adalah figur fundamental—sebuah fondasi
yang menopang hampir seluruh inovasi AI modern.
Pada tahun 2024,
ketika ACM secara resmi mengumumkan penerima A.M. Turing Award,
penghargaan paling prestisius dalam dunia komputasi, nama Barto disandingkan
dengan kolaborator lamanya, Richard S. Sutton. Dunia AI pun serentak menengok
ke dua tokoh yang selama bertahun-tahun tidak mengejar sorotan media, tetapi
mempersembahkan teori, algoritma, dan prinsip-prinsip inti yang hari ini
menjadi jantung teknologi AI—mulai dari robot otonom, sistem rekomendasi,
hingga model bahasa besar seperti ChatGPT.
Penghargaan itu terasa seperti sebuah momen penegasan: bahwa perjalanan panjang menuju kecerdasan buatan tidak hanya dibentuk oleh raksasa industri, tetapi juga oleh para pemikir teoritis yang selama puluhan tahun berkhidmat dalam kesunyian laboratorium dan ruang kuliah.











