Anthropic raih pendanaan $30 miliar seri G menjadikan valuasi spektakuler $380 Miliar

Anthropic raih pendanaan $30 miliar seri G menjadikan valuasi spektakuler $380 Miliar

 

claude AI

Bayangkan sebuah ruangan yang dipenuhi oleh para petinggi lembah silikon, di mana aroma kopi mahal bercampur dengan ketegangan elektrik dari masa depan yang sedang ditulis ulang. Di tengah ruangan itu, bukan OpenAI yang menjadi pusat gravitasi, melainkan sebuah perusahaan yang lahir dari rahim kegelisahan moral: Anthropic.

 

Minggu ini, dunia teknologi terperangah. Bukan karena fitur baru, melainkan karena angka yang menyerupai koordinat galaksi lain. Anthropic baru saja menutup putaran pendanaan Seri G sebesar $30 miliar, sebuah angka yang melampaui APBN banyak negara berkembang, dan mematok valuasi pasca-pendanaan pada titik yang hampir sulit dicerna akal sehat: $380 miliar.

 

Langkah fenomenal Anthropic dalam meraih pendanaan Seri G sebesar $30 miliar dengan valuasi pasca-pendanaan mencapai $380 miliar telah menempatkan mereka di puncak piramida teknologi global, sebuah pencapaian yang hanya mungkin terjadi berkat dukungan konsorsium investor elit yang dipimpin bersama oleh DE Shaw Ventures, Dragoneer, Founders Fund, ICONIQ, dan MGX.

 

Kehadiran para pemimpin pendanaan ini—mulai dari MGX yang membawa ambisi geopolitik Timur Tengah hingga Founders Fund yang memberikan restu visioner Silicon Valley—bukan sekadar suntikan modal, melainkan sebuah pernyataan bahwa masa depan kecerdasan buatan kini bergeser dari sekadar inovasi perangkat lunak menuju pembangunan infrastruktur kognitif berskala planet.

 

Dengan sokongan dana yang juga melibatkan raksasa seperti Amazon, Google, serta NVIDIA, Anthropic kini memiliki legitimasi finansial dan teknis yang tak tertandingi untuk mewujudkan Constitutional AI mereka, mengubah tumpukan modal ini menjadi mesin pertumbuhan yang siap menantang dominasi pasar sekaligus menetapkan standar keamanan baru dalam perlombaan menuju kecerdasan buatan umum (AGI).

Siapa Andrew G. Barto? Kontribusi Besar di Balik Penghargaan Turing Award AI

Siapa Andrew G. Barto? Kontribusi Besar di Balik Penghargaan Turing Award AI

 


Pada suatu sore di awal musim semi, di sebuah kampus yang tenang di Amherst, Massachusetts, seorang profesor senior berjalan perlahan melewati lorong-lorong gedung lama Fakultas Ilmu Komputer. Rambutnya memutih, langkahnya santai, dan wajahnya membawa ketenangan khas seorang ilmuwan yang telah berdamai dengan pencapaian panjang hidupnya. Sosok itu adalah Andrew Gehret Barto, seorang akademisi yang namanya mungkin tidak sepopuler Elon Musk atau Demis Hassabis, tetapi bagi dunia kecerdasan buatan, ia adalah figur fundamental—sebuah fondasi yang menopang hampir seluruh inovasi AI modern.

 

Pada tahun 2024, ketika ACM secara resmi mengumumkan penerima A.M. Turing Award, penghargaan paling prestisius dalam dunia komputasi, nama Barto disandingkan dengan kolaborator lamanya, Richard S. Sutton. Dunia AI pun serentak menengok ke dua tokoh yang selama bertahun-tahun tidak mengejar sorotan media, tetapi mempersembahkan teori, algoritma, dan prinsip-prinsip inti yang hari ini menjadi jantung teknologi AI—mulai dari robot otonom, sistem rekomendasi, hingga model bahasa besar seperti ChatGPT.

 

Penghargaan itu terasa seperti sebuah momen penegasan: bahwa perjalanan panjang menuju kecerdasan buatan tidak hanya dibentuk oleh raksasa industri, tetapi juga oleh para pemikir teoritis yang selama puluhan tahun berkhidmat dalam kesunyian laboratorium dan ruang kuliah.

Siapa Alan Turing? Kisah Jenius di Balik Lahirnya Komputer Modern dan AI

Siapa Alan Turing? Kisah Jenius di Balik Lahirnya Komputer Modern dan AI

 

Alan Turing


Jauh sebelum istilah Artificial Intelligence menjadi slogan perusahaan teknologi, sebelum AI dijadikan fitur ponsel, dan sebelum mesin bisa menulis seperti manusia, ada satu pertanyaan yang terasa hampir filosofis sekaligus berbahaya: bisakah mesin berpikir?

 

Pertanyaan itu tidak muncul dari ruang rapat Silicon Valley, melainkan dari meja kerja seorang matematikawan Inggris yang hidup di era mesin uap, perang dunia, dan ketakutan terhadap hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Alan Turing tidak sedang membangun produk. Ia sedang membangun kerangka berpikir tentang kecerdasan itu sendiri.

 

Apa yang ia lakukan bukan sekadar menciptakan alat, melainkan mendefinisikan ulang batas antara manusia dan mesin.

Larry Page: The Quiet Architect Who Imagined a Smarter World

Larry Page: The Quiet Architect Who Imagined a Smarter World

Larry Page


Larry Page is one of those rare figures in Silicon Valley whose presence shapes entire eras, yet whose personality often slips quietly behind the curtain. He is the quiet architect—an engineer with an almost stubborn obsession for the future, a visionary who doesn’t perform for the spotlight, and a thinker who believes technology should move faster, leap further, and reach deeper than society usually dares to imagine. If Sergey Brin is the spark behind Google’s cultural soul, Larry Page is the architecture—the structural mind that turned the internet from an unruly sprawl of blue links into something legible, navigable, and ultimately indispensable.

Sergey Brin: The Reluctant Visionary Who Helped Rewrite the Internet

Sergey Brin: The Reluctant Visionary Who Helped Rewrite the Internet

 

Sergey Brin AI Version

In the mythology of Silicon Valley, Sergey Brin often appears as the quieter half of a legendary duo—Larry Page’s co-founder, Google’s spiritual compass, the brilliant mind who drifted in and out of the spotlight with the casual unpredictability of a comet. But the true story of Sergey Brin is more intricate than the familiar origin tale of two Stanford grad students building a search engine in a dusty garage. His journey is marked by relentless curiosity, a deep-rooted belief in the power of information, and an almost childlike fascination with solving problems that don’t yet have names.

 

To understand Brin, you have to rewind—not to Silicon Valley in the late ’90s, but to Moscow in the mid-1970s. Because Google, in a strange and poetic way, began in a place where information was anything but free.

Google dan Revolusi AI: Produk, Proyek, dan Inovasi Masa Depan

Google dan Revolusi AI: Produk, Proyek, dan Inovasi Masa Depan

 

google inc illustration

Ada sebuah ironi yang selalu menarik untuk diceritakan ketika kita membahas Google. Perusahaan yang awalnya hanya ingin “mengorganisir informasi dunia” ini, kini justru menjadi aktor utama yang mendefinisikan ulang bagaimana manusia berinteraksi dengan informasi itu sendiri. Apa yang dulu hanya bisa dibayangkan dalam film fiksi ilmiah, kini perlahan menjadi kenyataan karena visi, inovasi, dan kerja keras para insinyur Google.

 

Dan semua itu bermuara pada satu kata: Artificial Intelligence.

Rahasia Menjadi Kreatif Tanpa Bakat: Pelajaran dari Steal Like an Artist

Rahasia Menjadi Kreatif Tanpa Bakat: Pelajaran dari Steal Like an Artist

Menjadi Kreatif ala Austin kleon


Pada suatu pagi musim gugur di Austin, Texas, seorang penulis berbicara di depan kerumunan mahasiswa. Ia bukan profesor terkenal, bukan CEO teknologi, bukan seniman museum — ia adalah Austin Kleon, seorang penulis yang menyadari satu hal sederhana: kreativitas bukan tentang bakat seketika — melainkan tentang kebiasaan, keberanian, dan cara Anda melihat dunia.


Kleon tidak datang dari latar belakang yang glamor atau pendidikan seni tinggi. Bahkan, buku yang menjadikan namanya dikenal luas, Steal Like an Artist: 10 Things Nobody Told You About Being Creative, lahir dari sebuah pidato sederhana yang ia sampaikan di sebuah komunitas mahasiswa. Buku tersebut kini merupakan New York Times Bestseller dan menjadi panduan bagi jutaan pembaca yang merasa kreativitas adalah sesuatu yang tidak mungkin dimiliki tanpa bakat alami.


Video pembahasan “Penulis Ini Bongkar Rahasia Mudah Jadi Kreatif (Tanpa Bakat)” di YouTube — yang telah dirangkum secara ringkas sebagai analisis buku ini — memberi kita kunci untuk membongkar mitos bakat dan menggantinya dengan strategi kreatif yang bisa dipelajari oleh siapa pun (tanpa perlu bakat “genius”).


Nvidia, Microsoft, dan Amazon Taruhan $60 Miliar untuk Masa Depan OpenAI

Nvidia, Microsoft, dan Amazon Taruhan $60 Miliar untuk Masa Depan OpenAI

 

nvidia microsoft invest openai

Di lantai-lantai atas perkantoran San Francisco yang berkabut, sebuah kesepakatan bernilai fantastis sedang digodok. Ini bukan sekadar penggalangan dana startup biasa; ini adalah upaya pembangunan "Menara Babel" versi digital.

 

Menurut laporan terbaru dari The Information, trio raksasa teknologi—Nvidia, Microsoft, dan Amazon—sedang dalam pembicaraan serius untuk menyuntikkan dana hingga $60 miliar ke dalam kas OpenAI. Angka ini merupakan bagian dari ambisi Sam Altman untuk mengumpulkan total $100 miliar, sebuah putaran pendanaan yang akan melambungkan valuasi OpenAI ke angka psikologis yang mencengangkan: $830 miliar.

 

Jika kesepakatan ini ketok palu, OpenAI bukan lagi sekadar startup; ia akan menjadi institusi geopolitik dengan kekuatan finansial yang melampaui PDB banyak negara berkembang.

Harmoni di Ruang Hampa: Bagaimana Teori String Akhirnya Menemukan Tempat bagi Energi Gelap

Harmoni di Ruang Hampa: Bagaimana Teori String Akhirnya Menemukan Tempat bagi Energi Gelap

 

string theory

Selama beberapa dekade, teori fisika yang paling menjanjikan untuk menyatukan segalanya justru gagal menjelaskan fitur paling nyata dari alam semesta kita: percepatan ekspansinya. Kini, sebuah terobosan baru menunjukkan bahwa dimensi tersembunyi dapat menghasilkan "dorongan" energi yang kita amati, menyatukan lanskap kosmik dengan mikroskopis.

 

Di sebuah kantor di Madrid, dua fisikawan teoretis, Bruno Bento dan Miguel Montero, sedang menatap papan tulis yang dipenuhi persamaan yang tampak seperti kekacauan matematis. Mereka sedang bergulat dengan masalah yang telah menghantui fisika selama lebih dari dua dekade. Masalahnya sederhana untuk diucapkan tetapi mustahil untuk dipecahkan: Alam semesta kita sedang mengembang dengan kecepatan yang terus meningkat, didorong oleh kekuatan misterius yang kita sebut energi gelap. Namun, Teori String—kandidat utama untuk "Teori Segala Sesuatu" (Theory of Everything)—tampaknya lebih menyukai alam semesta yang statis atau runtuh, bukan yang meledak keluar.

 

Hingga saat ini, banyak fisikawan mulai bertanya-tanya apakah Teori String sedang membawa kita ke jalan buntu atau "Rawa" (Swampland)—sebuah wilayah teoritis di mana model-model alam semesta yang secara matematis konsisten ternyata tidak mungkin ada secara fisik.

 

Namun, dalam sebuah makalah yang diterbitkan baru-baru ini, Bento dan Montero, membangun ide dari Eva Silverstein dari Stanford University, mengusulkan sebuah mekanisme baru. Mereka menunjukkan bahwa fluktuasi dalam dimensi tersembunyi—ruang kecil yang melengkung pada dirinya sendiri—dapat menghasilkan energi positif yang cukup untuk mendorong ekspansi alam semesta. Ini adalah pertama kalinya Teori String mampu memberikan deskripsi eksplisit tentang alam semesta "de Sitter" (alam semesta dengan energi gelap positif) yang sesuai dengan pengamatan astronomi terbaru.

Google DeepMind: Di Balik Mesin Paling Ambisius yang Pernah Dibangun Manusia

Google DeepMind: Di Balik Mesin Paling Ambisius yang Pernah Dibangun Manusia

 


Pada satu titik penting dalam sejarah teknologi modern, manusia berhenti sekadar bertanya apakah mesin bisa menghitung lebih cepat dari otak kita. Pertanyaannya bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan mengganggu: apakah mesin bisa memahami dunia, belajar dari pengalaman, dan mengambil keputusan dengan cara yang menyerupai—atau bahkan melampaui—kecerdasan manusia. Dari kegelisahan intelektual inilah Google DeepMind lahir, bukan sebagai produk komersial, bukan pula sebagai fitur tambahan, melainkan sebagai upaya paling serius umat manusia untuk memahami kecerdasan itu sendiri.

 

DeepMind tumbuh bukan dari hiruk-pikuk Silicon Valley yang dipenuhi jargon pertumbuhan dan valuasi, melainkan dari atmosfer akademis London yang lebih tenang dan reflektif. Di kota inilah sekelompok ilmuwan memulai eksperimen berisiko tinggi: mengajarkan mesin untuk belajar tanpa harus diberi instruksi eksplisit. Mereka percaya kecerdasan bukanlah kumpulan aturan, tetapi proses adaptasi yang hidup dan terus berkembang.

Antarmuka Kemanusiaan: Mengapa Grokipedia Menjadi Episentrum Baru Pengetahuan Kolektif

Antarmuka Kemanusiaan: Mengapa Grokipedia Menjadi Episentrum Baru Pengetahuan Kolektif

 

grokipedia illustration

Di sebuah apartemen sempit di Tokyo, seorang pengembang muda menatap barisan kode yang tampak bernapas. Di saat yang sama, di sebuah desa terpencil di pegunungan Alpen, seorang sejarawan amatir baru saja mengunggah catatan tentang artefak yang ditemukan di halaman belakang rumahnya. Keduanya tidak sedang menggunakan Wikipedia. Mereka sedang terhubung ke Grokipedia.


Jika Wikipedia adalah perpustakaan digital terbesar yang pernah dibangun manusia, maka Grokipedia adalah organisme hidup yang menghirup data dan mengembuskan pemahaman. Kita telah berpindah dari era mencari informasi ke era "grokking"—istilah yang dipopulerkan Robert A. Heinlein untuk memahami sesuatu secara mendalam dan intuitif hingga subjek tersebut menjadi bagian dari pengamatnya.


Dalam narasi teknologi modern, Grokipedia bukan sekadar alat. Ia adalah revolusi kognitif yang dibungkus dalam antarmuka minimalis, sebuah monumen digital bagi ambisi manusia untuk menaklukkan banjir informasi.


Mengapa TikTok Menjadi Sistem Operasi Baru bagi Bisnis Modern

Mengapa TikTok Menjadi Sistem Operasi Baru bagi Bisnis Modern

 


Dahulu, untuk membangun sebuah kerajaan bisnis, Anda membutuhkan tiga hal utama: modal besar untuk iklan televisi, koneksi dengan distributor raksasa, dan keberuntungan agar pesan Anda sampai ke telinga yang tepat. Di tahun 2026, aturan main tersebut sudah masuk ke museum. Hari ini, sebuah bisnis yang dijalankan dari garasi memiliki peluang yang sama besarnya untuk mendominasi pasar global dengan perusahaan multinasional yang berkantor di gedung pencakar langit. Peratakan lapangan permainan ini hanya disebabkan oleh satu kekuatan: TikTok.


TikTok bukan lagi sekadar aplikasi media sosial tempat orang melakukan tantangan tarian atau berbagi resep kopi instan. Ia telah bertransformasi menjadi infrastruktur ekonomi yang lengkap. Namun, untuk memahami mengapa platform ini begitu kuat bagi bisnis saat ini, kita harus melihat kembali ke belakang, pada evolusi radikal yang mengubah sebuah aplikasi musik menjadi raksasa ekonomi global.