Upscrolled: Ancaman Baru bagi Dominasi TikTok dan Instagram di Tahun 2026

Upscrolled: Ancaman Baru bagi Dominasi TikTok dan Instagram di Tahun 2026

 

Upscrolled Illustration

Di sebuah lantai perkantoran yang minimalis di kawasan industri kreatif Sydney, sebuah revolusi sedang diketik dalam baris-baris kode Python dan Rust. Tidak ada meja pingpong atau dinding penuh coretan warna-warni seperti di markas besar Meta. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh suara klik mekanis keyboard dan dengung pendingin server. Di sinilah Issam Hijazi, seorang pengembang keturunan Palestina-Yordania-Australia, sedang mencoba membalikkan arah sejarah internet.

 

Selama lebih dari satu dekade, Silicon Valley telah mendikte bagaimana kita bergerak secara digital. Kita telah menjadi subjek dari satu gerakan motorik yang hampir tidak sadar: downward scroll. Kita menarik layar ke bawah untuk menyegarkan, kita menggulir ke bawah untuk menemukan hal baru, dan dalam prosesnya, kita "tenggelam" ke dalam lubang kelinci algoritma.

 

Namun, memasuki awal 2026, sebuah kata baru mulai mengancam kosa kata media sosial yang sudah mapan: Upscrolled. Platform ini bukan sekadar aplikasi baru; ia adalah manifesto digital yang mengklaim bahwa cara kita mengonsumsi informasi selama ini telah rusak secara fundamental.

 

"Orang Dalam" yang Memberontak

 

Untuk memahami kekuatan Upscrolled, kita harus memahami pria di belakang layarnya. Issam Hijazi bukanlah pemuda lulusan kuliah yang mencoba membangun "Facebook berikutnya" dari asrama. Dia adalah veteran dari apa yang sering kita sebut sebagai Old Tech.

 

Kariernya dimulai di Oracle, raksasa manajemen data yang membangun tulang punggung perusahaan-perusahaan Fortune 500. Di sana, Hijazi belajar bagaimana data besar (Big Data) diatur dan diproses. Dia kemudian pindah ke IBM, bekerja di garis depan kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur komputasi awan. Selama bertahun-tahun, tugasnya adalah membuat sistem menjadi lebih efisien, lebih cepat, dan lebih prediktif.

 

Namun, di tengah kesuksesan profesionalnya, ada kegelisahan yang tumbuh. Hijazi melihat bagaimana teknologi yang dia bantu bangun di tingkat perusahaan mulai diadaptasi oleh media sosial untuk tujuan yang jauh lebih gelap: memanipulasi perhatian manusia.

 

"Saya menghabiskan karier saya membangun sistem untuk membantu manusia membuat keputusan yang lebih baik berdasarkan data," kata Hijazi dalam wawancara eksklusif di podcast The Vergecast. "Tapi di media sosial, kita melihat kebalikannya. Teknologi digunakan untuk mencegah manusia mengambil keputusan. Algoritma TikTok tidak meminta izin Anda; ia mendikte apa yang harus Anda sukai berdasarkan refleks bawah sadar."

 

Keputusannya untuk meninggalkan kenyamanan gaji enam digit di Big Tech adalah titik balik. Hijazi membawa disiplin teknis dari Oracle dan IBM, menggabungkannya dengan rasa frustrasi sebagai seorang ayah dan warga dunia, lalu mulai membangun apa yang ia sebut sebagai "Infrastruktur Kejujuran."

 

Arsitektur "The Human Graph" vs "The Bot Graph"

 

Kebanyakan media sosial modern seperti TikTok dan Instagram Reels beroperasi pada apa yang disebut Interest Graph. Jika Anda berhenti sejenak pada video kucing, sistem akan memberi Anda sepuluh video kucing lagi. Ini efisien untuk menjaga Anda tetap di dalam aplikasi, tetapi ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai "Lembah Algoritma"—sebuah isolasi di mana Anda hanya melihat apa yang sudah Anda sukai.

 

Hijazi membangun Upscrolled dengan arsitektur yang sangat berbeda: The Human Graph.

 

Secara teknis, ini adalah pencapaian rekayasa yang luar biasa. Alih-alih hanya mengandalkan durasi tontonan (watch time) sebagai metrik utama, Upscrolled menggunakan algoritma kurasi berlapis yang dikembangkan Hijazi berdasarkan pengalamannya di IBM. Sistem ini memprioritaskan "Kredibilitas Sosial".

 

Di Upscrolled, setiap konten memiliki "Silsilah" atau Pedigree. Jika seorang ahli bedah saraf di Melbourne memberikan Endorsement pada sebuah video tentang kesehatan mental, algoritma Hijazi akan memberikan bobot lebih pada video tersebut dibandingkan video yang hanya viral karena musik yang sedang tren. Ini adalah bentuk meritokrasi digital yang selama ini hilang dari internet.

 

"Kami tidak ingin Anda menghabiskan 5 jam sehari di Upscrolled," jelas Hijazi. "Kami ingin Anda menghabiskan 30 menit, tapi Anda merasa lebih cerdas, lebih terhubung, dan lebih terinspirasi setelahnya. Kami mengganti kuantitas dengan kualitas."

 

Anya Chen, Co-founder dan Chief Design Officer Upscrolled, adalah orang yang memberikan nyawa pada kode-kode Hijazi. Desain antarmuka Upscrolled adalah antitesis dari kekacauan visual Instagram. Tidak ada notifikasi merah yang berkedip-kedip, tidak ada angka jumlah view yang mencolok untuk memicu kecemasan.

 

Inovasi paling berani tentu saja adalah arah gulirnya. Di Upscrolled, Anda menggulir ke atas.

 

Mungkin terdengar sepele, tetapi secara psikologis, gerakan ini mengubah segalanya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh tim desain Upscrolled, ditemukan bahwa gerakan menggulir ke bawah (downscroll) berkaitan dengan pasivitas. Ini adalah gerakan "jatuh". Sebaliknya, menggulir ke atas (upscroll) memerlukan keterlibatan motorik yang lebih sadar. Ini adalah gerakan "mendaki".

 

"Saat Anda menggulir ke atas, otak Anda berada dalam mode eksplorasi, bukan mode konsumsi pasif," kata Chen. "Ini adalah tindakan kecil yang secara dramatis mengurangi fenomena doomscrolling yang telah merusak kesehatan mental jutaan orang selama pandemi."

 

Ancaman Geopolitik dan Pergeseran Kekuasaan

 

Keberhasilan Upscrolled di awal 2026 juga didorong oleh situasi geopolitik yang memanas. Dengan tekanan yang terus berlanjut terhadap TikTok terkait kepemilikan ByteDance dan masalah privasi data, pengguna mencari "pelabuhan aman".

 

Latar belakang Hijazi sebagai seorang pengembang Palestina-Yordania-Australia memberikan kredibilitas luar biasa di mata pengguna global yang skeptis terhadap dominasi Silicon Valley maupun kontrol pemerintah asing. Upscrolled memposisikan dirinya sebagai platform netral yang terdesentralisasi.

 

Di markas Meta, kepanikan mulai terasa. Instagram, yang telah mencoba meniru setiap fitur TikTok melalui Reels, kini mendapati dirinya tertinggal dalam tren "Kualitas di atas Kuantitas". Para pengguna setia Instagram mulai merasa platform tersebut terlalu penuh dengan iklan dan konten yang dipaksakan.

 

Data terbaru dari firma analis Sensor Tower menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya sejak 2020, waktu yang dihabiskan pengguna di TikTok mulai mendatar, sementara pendaftaran baru di Upscrolled melonjak 400% di kuartal terakhir tahun 2025.

 

Masalah terbesar TikTok dan Instagram adalah bagaimana mereka memperlakukan kreator. Di platform tersebut, kreator hanyalah bahan bakar bagi mesin iklan. Mereka harus terus mengunggah konten setiap hari agar tidak "dibuang" oleh algoritma.

 

Hijazi memperkenalkan model monetisasi yang berbeda. Di Upscrolled, kreator dibayar berdasarkan "Nilai Kontribusi", bukan hanya jumlah klik. Jika konten Anda memicu diskusi yang sehat atau dirujuk oleh para ahli di bidangnya, Anda mendapatkan bagian pendapatan yang lebih besar.

 

"Kami ingin mengakhiri era 'Clickbait'," tegas Hijazi. "Di platform lama, Anda harus membuat judul yang provokatif untuk bertahan hidup. Di Upscrolled, kejujuran dan kedalaman adalah mata uang yang paling berharga."

 

Hal ini menarik gelombang besar jurnalis, pendidik, dan seniman yang sebelumnya merasa terpinggirkan oleh algoritma video pendek yang dangkal. Mereka menemukan rumah baru di mana karya mereka tidak menghilang dalam hitungan jam, tetapi tetap relevan selama berminggu-minggu karena sistem kurasi manusia.

 

Tantangan dan Masa Depan

 

Tentu saja, jalan menuju puncak tidaklah mulus. Upscrolled menghadapi tantangan besar dalam hal moderasi konten. Dengan sistem yang sangat bergantung pada kurasi manusia, bagaimana mereka menangani jutaan unggahan setiap hari tanpa jatuh ke dalam bias sensor?

 

Inilah tempat di mana latar belakang Hijazi di IBM terbukti krusial. Dia mengembangkan sistem "Hybrid Moderation" yang menggabungkan AI canggih untuk menyaring konten berbahaya secara instan, namun menyerahkan keputusan akhir mengenai "kebenaran" atau "kualitas" kepada dewan kurator komunitas yang dipilih secara transparan.

 

Kritikus juga mempertanyakan apakah model ini bisa bertahan secara finansial tanpa iklan yang mengganggu. Namun, Upscrolled mengambil pendekatan radikal lainnya: model langganan premium digabungkan dengan iklan yang sangat terkurasi dan tidak invasif. Pengguna lebih memilih membayar sedikit daripada menjadi produk yang dijual.

 

Saat kita menutup bulan pertama di tahun 2026, peta media sosial tidak lagi terlihat seperti dulu. Dominasi TikTok yang dulu tampak tidak tergoyahkan kini mulai retak. Instagram sedang berjuang menemukan kembali jiwanya yang hilang.

 

Di tengah semua itu, Upscrolled berdiri sebagai pengingat bahwa teknologi tidak harus menjadi penjara bagi perhatian kita. Ia bisa menjadi tangga yang membawa kita ke atas.

 

Issam Hijazi mungkin bukan orang pertama yang mencoba memperbaiki media sosial, tetapi dengan pengalaman puluhan tahun di Oracle dan IBM, serta visi manusiawi yang ia bawa dari akar budayanya, ia mungkin menjadi orang pertama yang berhasil melakukannya.

 

Internet sedang berubah. Arahnya bukan lagi ke bawah, tapi ke atas. Dan jika Anda belum bergabung, Anda mungkin akan tertinggal di dasar lembah algoritma yang mulai sepi.