Kisah Maryna Viazovska, Sang Maestro Penumpuk Bola Peraih Fields Medal

Kisah Maryna Viazovska, Sang Maestro Penumpuk Bola Peraih Fields Medal

 

Maryna Viazovska Illustration

Di antara gemuruh artileri dan kepulan asap perang yang menyelimuti Ukraina, sebuah pikiran yang cemerlang terus mencari keindahan dalam abstraksi murni. Maryna Viazovska, seorang matematikawan Ukraina yang tenang namun berapi-api, bukan hanya sekadar memecahkan masalah kuno; ia menemukan kebenaran yang anggun di tengah kekacauan dunia. Ia adalah arsitek keheningan matematis, peraih Fields Medal—penghargaan tertinggi dalam matematika—yang kisahnya jauh lebih kompleks dari sekadar rumus dan teorema.

 

Permasalahan Kuno: Sebuah Simetri yang Menggoda

 

Bagi orang awam, masalah yang dipecahkan Viazovska mungkin terdengar sepele: "Bagaimana cara menumpuk bola dengan cara paling efisien?" Ini adalah teka-teki kuno yang telah memusingkan para matematikawan selama berabad-abad, bahkan menarik perhatian Isaac Newton dan Johannes Kepler. Mereka ingin tahu, bagaimana Anda bisa menjejalkan bola-bola identik sebanyak mungkin ke dalam suatu ruang?

 

Di dunia tiga dimensi kita, jawabannya adalah susunan piramida buah jeruk di toko kelontong. Susunan ini, yang dikenal sebagai kisi-kisi kubik berpusat muka (face-centered cubic lattice), dihipotesiskan oleh Kepler pada tahun 1611 dan terbukti benar baru pada tahun 1998 oleh Thomas Hales.

 

Namun, bagaimana jika Anda tidak hidup dalam tiga dimensi? Bagaimana jika alam semesta memiliki delapan dimensi, atau 24 dimensi? Di sinilah keindahan dan kekejaman matematika terungkap. Intuisi kita tentang ruang runtuh, dan masalah penumpukan bola menjadi sebuah labirin kompleks yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang simetri dan struktur matematis yang tak terbayangkan.

 

Selama puluhan tahun, para matematikawan berjuang. Mereka tahu ada kisi-kisi khusus di dimensi 8 (kisi-kisi E8) dan dimensi 24 (kisi-kisi Leech) yang diyakini menjadi solusi optimal, tetapi membuktikannya secara matematis adalah sebuah gunung Everest yang belum tertaklukkan. Ini bukan sekadar teka-teki, ini adalah kunci untuk memahami struktur fundamental yang mendasari berbagai bidang, dari teori kode hingga fisika partikel.

 

Kecemerlangan dalam Isolasi: Solusi yang Anggun


Maryna Viazovska, yang saat itu seorang profesor muda di École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) di Swiss, memiliki visi yang berbeda. Ia memiliki kemampuan langka untuk melihat melampaui kerumitan dan menemukan kesederhanaan yang mendasari.

 

Pada tahun 2016, dalam sebuah makalah yang relatif singkat—hanya 23 halaman—ia memecahkan masalah penumpukan bola di dimensi 8. Komunitas matematika terkejut. Solusinya tidak hanya benar, tetapi juga sangat anggun dan ringkas, menggunakan konstruksi fungsi modular forms yang cerdik—sebuah alat yang tidak pernah terpikirkan oleh banyak orang akan relevan dengan masalah penumpukan bola. Ini seperti menemukan jalan pintas tersembunyi melalui hutan belantara yang telah dijelajahi selama berabad-abad.

 

"Itu adalah mahakarya," kata Peter Sarnak, seorang matematikawan Princeton. "Solusinya begitu bersih dan tak terduga."

 

Tidak berhenti di situ, hanya beberapa hari kemudian, bersama dengan kolaboratornya, ia memperluas metodenya untuk memecahkan masalah yang sama di dimensi 24. Ini adalah penaklukan ganda yang mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemikir matematis paling cemerlang di generasinya.

 

Perjalanan dari Kyiv ke Lausanne: Sebuah Kisah Ketahanan


Lahir di Kyiv, Ukraina, pada tahun 1984, perjalanan Viazovska ke puncak matematika tidak datang tanpa tantangan. Ia tumbuh di tengah gejolak pasca-Soviet, namun sejak dini menunjukkan bakat luar biasa dalam matematika, bersaing di Olimpiade Matematika Internasional. Lingkungan akademis di Ukraina, meski terbatas sumber dayanya, memiliki tradisi yang kuat dalam melahirkan pemikir matematis.

 

Namun, kehidupan pribadinya tak luput dari bayang-bayang sejarah. Pada Februari 2022, ketika tank-tank Rusia meluncur ke Ukraina, Viazovska berada di Lausanne, ribuan kilometer jauhnya, namun hatinya hancur. Keluarganya, termasuk ibu dan saudara perempuannya, masih berada di Kyiv. Menerima Fields Medal pada Juli 2022 di Helsinki, hanya beberapa bulan setelah invasi besar-besaran, menjadi momen pahit manis.

 

"Saya ingat ketika membaca berita bahwa [penghargaan] ini akan diberikan kepada saya, saya tidak bisa menikmati berita itu sama sekali," katanya dalam sebuah wawancara. "Saya hanya memikirkan betapa sulitnya orang-orang Ukraina yang saya kenal mencoba untuk bertahan hidup."

 

Medali Fields-nya bukan hanya pengakuan atas kejeniusan matematis; itu juga menjadi simbol ketahanan dan kekuatan intelektual Ukraina di hadapan agresi. Ia menggunakan platformnya untuk berbicara tentang negaranya, menyerukan perdamaian dan dukungan bagi rakyat Ukraina.

 

Maryna Viazovska adalah contoh langka dari kejeniusan matematis yang juga memiliki kesadaran mendalam akan dunia di sekitarnya. Dia membuktikan bahwa keindahan abstrak matematika dapat eksis berdampingan dengan realitas brutal manusia. Pekerjaannya tidak hanya memperkaya teori bilangan dan geometri, tetapi juga membuka jalan baru dalam fisika, kimia, dan ilmu material—mungkin membantu kita merancang struktur molekuler baru atau material dengan sifat-sifat yang belum pernah ada.

 

Dalam dunia yang semakin kacau dan terpecah belah, Maryna Viazovska mengingatkan kita bahwa ada simetri, ketertiban, dan keindahan fundamental yang menunggu untuk ditemukan. Dan kadang-kadang, untuk melihatnya, kita hanya perlu menumpuk bola dengan cara yang benar, bahkan di delapan atau 24 dimensi, dan melihat keindahan yang muncul dari susunan tersebut. Ia adalah bukti bahwa bahkan di tengah badai, pikiran manusia masih bisa mencapai bintang.