Harmoni di Ruang Hampa: Bagaimana Teori String Akhirnya Menemukan Tempat bagi Energi Gelap
Sains
Selama
beberapa dekade, teori fisika yang paling menjanjikan untuk menyatukan
segalanya justru gagal menjelaskan fitur paling nyata dari alam semesta kita:
percepatan ekspansinya. Kini, sebuah terobosan baru menunjukkan bahwa dimensi
tersembunyi dapat menghasilkan "dorongan" energi yang kita amati,
menyatukan lanskap kosmik dengan mikroskopis.
Di
sebuah kantor di Madrid, dua fisikawan teoretis, Bruno Bento dan Miguel
Montero, sedang menatap papan tulis yang dipenuhi persamaan yang tampak seperti
kekacauan matematis. Mereka sedang bergulat dengan masalah yang telah
menghantui fisika selama lebih dari dua dekade. Masalahnya sederhana untuk
diucapkan tetapi mustahil untuk dipecahkan: Alam semesta kita sedang mengembang
dengan kecepatan yang terus meningkat, didorong oleh kekuatan misterius yang
kita sebut energi gelap. Namun, Teori String—kandidat utama untuk "Teori
Segala Sesuatu" (Theory of
Everything)—tampaknya lebih menyukai alam semesta yang statis atau runtuh,
bukan yang meledak keluar.
Hingga
saat ini, banyak fisikawan mulai bertanya-tanya apakah Teori String sedang
membawa kita ke jalan buntu atau "Rawa" (Swampland)—sebuah wilayah teoritis di mana
model-model alam semesta yang secara matematis konsisten ternyata tidak mungkin
ada secara fisik.
Namun, dalam sebuah makalah yang diterbitkan baru-baru ini, Bento dan Montero, membangun ide dari Eva Silverstein dari Stanford University, mengusulkan sebuah mekanisme baru. Mereka menunjukkan bahwa fluktuasi dalam dimensi tersembunyi—ruang kecil yang melengkung pada dirinya sendiri—dapat menghasilkan energi positif yang cukup untuk mendorong ekspansi alam semesta. Ini adalah pertama kalinya Teori String mampu memberikan deskripsi eksplisit tentang alam semesta "de Sitter" (alam semesta dengan energi gelap positif) yang sesuai dengan pengamatan astronomi terbaru.
Dilema Kosmologis
Untuk
memahami mengapa ini adalah masalah besar, kita harus kembali ke tahun 1998.
Saat itu, pengamatan terhadap supernova jauh mengungkapkan sesuatu yang
mengejutkan: alih-alih melambat karena tarikan gravitasi materi, alam semesta
justru melesat semakin cepat. Kosmolog menyebut penyebabnya sebagai
"Energi Gelap".
Dalam
persamaan Einstein, energi ini muncul sebagai "Konstanta Kosmologis."
Bayangkan alam semesta seperti balon yang sedang ditiup. Materi dan gravitasi
bertindak seperti karet balon yang mencoba mengerutkannya kembali, tetapi
energi gelap adalah udara yang terus dipompa masuk, memaksa balon untuk terus
membesar.
Masalahnya,
ketika fisikawan mencoba menghitung berapa banyak energi yang seharusnya
dimiliki oleh ruang hampa menggunakan mekanika kuantum, hasilnya adalah angka
yang 10 pangkat 120 kali lebih besar dari yang kita amati. Ini disebut sebagai
"masalah konstanta kosmologis," kegagalan prediksi terburuk dalam
sejarah sains.
Teori String dan Lanskap
yang Mustahil
Masuklah
Teori String. Teori ini mengusulkan bahwa partikel dasar bukanlah titik,
melainkan dawai (string) kecil yang bergetar. Agar matematika teori ini
bekerja, alam semesta tidak boleh hanya memiliki empat dimensi (tiga ruang,
satu waktu), melainkan sepuluh atau sebelas. Dimensi ekstra ini harus
"tergulung" sangat kecil sehingga kita tidak bisa melihatnya.
Keindahan
sekaligus kutukan dari Teori String adalah fleksibilitasnya. Ada sekitar $10^{500}$
cara berbeda untuk menggulung dimensi-dimensi ini. Koleksi kemungkinan ini
disebut "Lanskap" (Landscape).
Selama bertahun-tahun, fisikawan berasumsi bahwa di antara sekian banyak
kemungkinan itu, pasti ada satu yang mirip dengan alam semesta kita.
Namun
pada tahun 2018, fisikawan Cumrun Vafa dari Harvard mengguncang komunitas
dengan "Konjektur Rawa" (Swampland Conjecture). Ia berpendapat bahwa sebagian
besar solusi yang tampak seperti alam semesta kita sebenarnya tidak konsisten
secara internal dalam Teori String. Alam semesta dengan energi gelap yang
konstan dan positif, menurut Vafa, mungkin tidak ada di Lanskap—mereka berada
di Rawa.
"Tiba-tiba,
teori yang seharusnya menjelaskan segalanya tampak tidak bisa menjelaskan hal
yang paling dasar tentang langit malam kita," kata Montero.
Gaya Casimir: Kunci dari
Dimensi Ekstra
Terobosan
Bento dan Montero datang dari ide klasik fisika yang diterapkan pada skala
kosmik: Efek Casimir.
Dalam
fisika kuantum, ruang hampa tidak pernah benar-benar kosong; ia penuh dengan
partikel virtual yang muncul dan hilang. Jika Anda meletakkan dua plat logam
sangat dekat satu sama lain, Anda membatasi jenis gelombang kuantum yang bisa
ada di antara plat tersebut. Karena ada lebih banyak gelombang di luar daripada
di dalam, plat-plat tersebut akan terdorong bersama.
Bento
dan Montero menyadari bahwa dimensi tersembunyi dalam Teori String bertindak
seperti plat-plat Casimir ini. "Dimensi ekstra itu seperti ruang di antara
plat," jelas Bento. "Karena ruangnya terbatas, fluktuasi kuantum di
dalamnya menciptakan tekanan."
Dalam
model mereka, tekanan ini bukan menarik, melainkan mendorong. Energi ini
berasal dari interaksi kompleks antara geometri dimensi ekstra dan fluktuasi
medan kuantum. Yang paling krusial, energi yang dihasilkan bukanlah konstanta
yang statis. Ia dinamis. Ia berubah seiring waktu.
Energi Gelap yang
Memudar
Salah
satu aspek paling menarik dari model baru ini adalah prediksinya tentang masa
depan. Dalam model standar (Lambda-CDM), energi gelap bersifat konstan
selamanya. Namun dalam model Bento-Montero, energi gelap perlahan-lahan
melemah.
Ini
secara mengejutkan selaras dengan data terbaru dari Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI). Pada
tahun 2024 dan 2025, tim DESI merilis peta alam semesta terbesar yang pernah
dibuat, yang memberikan petunjuk awal—meskipun belum konklusif—bahwa energi
gelap mungkin memang sedang memudar seiring bertambahnya usia kosmos.
Jika
energi gelap memudar, maka Teori String tidak lagi bertentangan dengan
realitas. Sebaliknya, ia menjadi satu-satunya teori yang mampu menjelaskan mengapa ia memudar. "Alam
semesta kita mungkin tidak stabil dalam jangka panjang yang tak
terhingga," kata Silverstein. "Tapi ia cukup stabil untuk eksistensi
kita selama miliaran tahun."
Selama
bertahun-tahun, kritik terbesar terhadap Teori String adalah bahwa ia tidak
bisa diuji secara eksperimental. Ia dianggap lebih sebagai matematika murni
daripada fisika.
Namun,
dengan menghubungkan detail mikroskopis dari dimensi ekstra dengan data
kosmologis tentang ekspansi alam semesta, para peneliti ini telah membawa Teori
String kembali ke ranah sains yang bisa diverifikasi. Jika observasi satelit
masa depan mengonfirmasi bahwa energi gelap memang berubah, maka mekanisme
"Casimir dimensi ekstra" ini akan menjadi kandidat kuat untuk
menjelaskan cara kerja mesin kosmik kita.
Masa Depan yang Dinamis
Pekerjaan
ini belum selesai. Membuktikan secara matematis bahwa model ini sepenuhnya
stabil adalah tugas yang sangat berat. Namun, bagi komunitas fisika, ini adalah
embusan udara segar.
Setelah
bertahun-tahun merasa seolah-olah Teori String terisolasi dari kenyataan, kini
ada jembatan yang mulai dibangun. Jembatan itu menunjukkan bahwa alam semesta
kita, dengan segala percepatan dan misterinya, mungkin memang merupakan salah
satu harmoni yang diizinkan dalam simfoni dawai yang agung.
"Kita
tidak lagi hanya menebak-nebak di kegelapan," pungkas Montero. "Kita
mulai melihat cahaya di ujung dimensi."
Di adaptasi dari
Quantamagazine
