Siap Saingi OpenAI, Meta AI Rekrut Talenta Hebat untuk Proyek Superintelligence
Artificial Intelligence Founder
Berawal
dari kegagalan visi Metaverse yang menghabiskan miliaran dolar, Mark Zuckerberg
kini telah memutar haluan kapalnya menuju samudra baru yang lebih menantang: Artificial Superintelligence (ASI).
Di koridor Menlo Park, Meta bukan lagi sekadar raksasa media sosial; ia telah
bertransformasi menjadi mesin rekrutmen paling agresif dalam sejarah Silicon
Valley.
Zuckerberg
tidak lagi sekadar mengirim email standar. Ia secara pribadi mengundang para
ilmuwan paling berpengaruh di dunia untuk makan malam, meyakinkan mereka bahwa
masa depan kemanusiaan tidak boleh dimonopoli oleh satu entitas tertutup. Ia
sedang membangun "Dream Team" yang dirancang untuk meruntuhkan dominasi
OpenAI.
Berikut adalah profil para talenta hebat yang kini menjadi tulang punggung proyek Superintelligence Meta.
Alexandr
Wang adalah mantan
mahasiswa Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang dikenal sebagai
miliarder termuda di dunia. Sebelum menjadi penasihat strategis di Meta, ia
membangun Scale AI,
perusahaan yang menjadi tulang punggung penyedia data untuk hampir seluruh
raksasa teknologi, termasuk OpenAI. Pengalamannya dalam mengelola pelabelan
data berskala masif menjadikannya sosok paling krusial dalam menyediakan
"nutrisi" berkualitas tinggi bagi model bahasa besar Meta.
Nat
Friedman menempuh
pendidikan di MIT dan merupakan sosok legendaris di dunia perangkat lunak
terbuka. Sebelum merapat ke Meta, ia menjabat sebagai CEO GitHub, di mana ia memimpin peluncuran GitHub Copilot, pionir alat
koding berbasis AI yang mengubah cara dunia memprogram. Friedman membawa visi
strategis tentang bagaimana ekosistem open-source dapat mengalahkan model tertutup melalui
kolaborasi global pengembang.
Shengjia
Zhao meraih gelar
Ph.D. dari Stanford University, di mana risetnya berfokus pada efisiensi dan
keandalan sistem AI. Sebelum bergabung dengan Meta, ia adalah peneliti kunci di
OpenAI yang berkontribusi
besar dalam pengembangan kemampuan menalar (reasoning) pada GPT-4. Keahliannya dalam teknik Reinforcement Learning
menjadikannya pemimpin utama dalam upaya Meta menciptakan AI yang bisa
mengoreksi logikanya sendiri secara otonom.
Jack
Rae memiliki
latar belakang akademis yang kuat dari University College London (UCL) dan
Oxford University. Sebelum di Meta, ia merupakan salah satu ilmuwan riset utama
di Google DeepMind, yang
memimpin proyek model bahasa masif seperti Gopher dan Chinchilla. Ia adalah pakar global dalam arsitektur
LLM yang fokus pada bagaimana model dapat mempertahankan memori jangka panjang
dan efisiensi parameter.
Ruoming
Pang merupakan
lulusan Princeton University dengan fokus pada sistem terdistribusi. Ia
memiliki rekam jejak panjang selama lebih dari 15 tahun di Google, di mana ia memimpin tim Large-Scale Model Training.
Pengalamannya sangat vital bagi Meta dalam mengoptimalkan infrastruktur
komputasi agar mampu melatih model dengan triliunan parameter secara stabil
tanpa menghabiskan daya yang berlebihan.
Johan
Schalkwyk
menempuh pendidikan di bidang teknik elektro dan ilmu komputer di Afrika
Selatan sebelum berkarir di Amerika Serikat. Ia menghabiskan lebih dari 20
tahun di Google sebagai Vice President of Engineering,
memimpin tim Google Speech. Di bawah arahannya, teknologi pengenalan suara
dunia berevolusi, dan kini ia membawa keahlian tersebut untuk membangun
antarmuka suara yang emosional dan natural bagi Meta AI.
Mark
Lee adalah pakar
perangkat keras dan perangkat lunak yang memiliki latar belakang pendidikan
dari universitas ternama di Silicon Valley. Sebelum bergabung dengan Meta, ia
adalah arsitek senior di Apple
yang berfokus pada integrasi Machine
Learning ke dalam chip seri-A dan seri-M. Keahliannya dalam membuat model
AI yang sangat cerdas namun hemat daya menjadikannya kunci untuk membawa
Superintelligence ke dalam perangkat kacamata pintar.
Trapit
Bansal meraih
gelar Ph.D. dari University of Massachusetts Amherst dengan spesialisasi pada
pembelajaran mesin tingkat lanjut. Sebelumnya, ia merupakan peneliti senior di Google DeepMind yang berfokus
pada kemampuan generalization
dan logika AI. Di Meta, ia menggunakan pengalamannya untuk merancang arsitektur
kognitif yang memungkinkan AI melakukan perencanaan tugas yang sangat kompleks.
Hammad
Syed memiliki
latar belakang pendidikan di bidang teknik komputer dan manajemen sistem. Ia
memiliki pengalaman ekstensif dalam membangun pusat data skala besar di
perusahaan teknologi tingkat atas (Tier-1). Di Meta, ia bertanggung jawab atas
manajemen armada 600.000 GPU
Nvidia H100, memastikan sinkronisasi perangkat keras dan lunak berada pada
tingkat performa tertinggi untuk pelatihan AI.
Ji Lin memperoleh gelar Ph.D. dari MIT,
di bawah bimbingan Song Han, pakar efisiensi AI dunia. Sebelum ke Meta, ia
dikenal sebagai peneliti yang mengembangkan inovasi teknik TinyML yang revolusioner. Karyanya telah
diimplementasikan secara luas di industri untuk memungkinkan model AI berjalan
pada perangkat dengan sumber daya terbatas, selaras dengan visi Meta untuk
menghadirkan AI di saku setiap pengguna.
Huiwen
Chang meraih gelar
Ph.D. dalam bidang Computer Science dengan fokus pada visi komputer. Ia
memiliki pengalaman riset yang mendalam di Google Research, khususnya dalam pengembangan model
generatif gambar dan pemahaman konten visual. Di Meta, ia memimpin
pengintegrasian kemampuan multimodal agar AI tidak hanya memahami teks, tetapi
juga mampu "melihat" dunia seakurat mata manusia.
Shuchao
Bi adalah lulusan
program doktoral ilmu komputer dengan spesialisasi pada Natural LanguageProcessing (NLP). Sebelum di Meta, ia memiliki pengalaman luas di perusahaan
teknologi besar dalam mengelola peluncuran model bahasa skala global. Ia
berperan penting dalam memastikan bahwa kecerdasan Meta AI dapat diakses secara
merata dalam berbagai bahasa dengan akurasi semantik yang sangat tinggi.
Hongyu
Ren memperoleh
gelar Ph.D. dari Stanford University, di mana ia bekerja erat dengan Jure
Leskovec di bidang Graph NeuralNetworks. Sebelum bergabung dengan Meta, ia dikenal melalui publikasi
risetnya yang berpengaruh tentang penalaran logis dalam AI. Di Meta, ia
bertugas membangun struktur pengetahuan yang memungkinkan AI memahami hubungan
sebab-akibat yang rumit.
Pei Sun menempuh pendidikan tinggi di
universitas riset terkemuka dan memiliki pengalaman bertahun-tahun sebagai
peneliti senior di Google.
Ia dikenal sebagai ahli dalam pengumpulan dan pembersihan dataset berskala
internet. Di Meta, ia memastikan bahwa data yang digunakan untuk melatih
Superintelligence bebas dari bias dan memiliki keragaman informasi yang
diperlukan untuk kecerdasan tingkat tinggi.
Strategi "Total War" Zuckerberg
Mark
Zuckerberg telah menginstruksikan perusahaannya untuk tidak menahan diri.
Dengan bergabungnya nama-nama besar seperti Ruoming Pang, Jack Rae, hingga Johan Schalkwyk, Meta
telah menciptakan gravitasi baru di Silicon Valley yang membuat OpenAI dan
Google mulai goyah.
Mereka
tidak hanya menawarkan kompensasi yang fantastis, tetapi juga janji akan
kedaulatan riset. Di Meta, para talenta ini diberikan akses ke gudang data
raksasa dari miliaran pengguna Instagram, WhatsApp, dan Facebook, serta daya
komputasi yang hampir tak terbatas.
Zuckerberg
bertaruh bahwa dengan mengumpulkan otak-otak terbaik dalam satu atap—mulai dari
pakar audio, infrastruktur, hingga logika murni—dan membiarkan mereka bekerja
dalam ekosistem yang terbuka (open
source), Meta akan mampu melampaui OpenAI dalam waktu singkat. Perang ini
bukan lagi soal siapa yang punya chatbot paling pintar, melainkan siapa yang
akan pertama kali menyentuh garis finis dalam menciptakan kecerdasan yang
benar-benar melampaui intelegensi manusia.
Meta
telah membakar kapalnya; tidak ada jalan kembali. Mereka kini melaju penuh
menuju fajar era Superintelligence.
